PR untuk Diknas dan Depag menghilangkan Deskriminasi dalam mencerdaskanbangsa
https://guglos.blogspot.com/2015/08/pr-untuk-diknas-dan-depag-menghilangkan.html
Inilah peran Diknas dan Depag sangat dituntut dalam mencerdaskan bangsa dan menciptakan bangsa yang beragama dengan kondisi kemajemukan Indonesia dan wilayah kepulauan luas. Bukan tugas mereka saja tetapi masyarakat dan orang tua sebagai pemeran langsung di masyarakat juga sangat berpotensi.
Setelah lama tak terdengar istilah Sekolah Internasional, sekolah yang di agung-agungkan untuk nama baik sekolah. Untuk menjarin para orang tua berduit. Mereka hanya tau dan ingin anaknya sekolah bagus, bagaimana anaknya sendiri, sudah siapkah jiwa dan mentalnya?
Sekolah Internasional sebagai kebanggan sekolah dan dalih untuk meraup keuntungan pihak-pihak tertentu. Toh akhirnya program ini di hapus. Persiapan sekolah yang wajib dipenuhi, berbagai aturan, administrasi dan segala persiapan sekolah dipertaruhkan. Dan sangat besar dana yang diguyurkan demi program tersebut.
Program K13 sekolah. Baru saja disiarkan banyak sekolah mengeluh, kalang kabut guru belum siap. Orang tua makin bingung, banyak sekolah yang menolak. Akhirnya program ini di tangguhkan dan masih dalam perbincangan dikalangan sekolah.
Sekolah akselerasi dimana Sekolah hanya menempuh dua tahun langsung lulus. Masalah dana itu pasti ada, masalah murid ini juga pasti sudah disaring hanya bagi murid yang mampu dengan IQ tinggi. Lantas mental dan jiwa bagaimana? Pagi, siang, malam bocah disuruh belajar. Dikurung dengan buku dan bacaan. Jiwanya tak bebas, tak sosialisasi, dan tekanan penuh demi nilai.
Akhirnya diknas menghapus sistem sekolah akselerasi, tetapi sekolah yang nakal mengganti nama sekolah pendalaman minat, sama tidaknya perlakuan kita tidak tahu?. Untuk Depag sendiri sampai sekarang belum menghapus program akselerasi di sekolah-sekolah agama di Indonesia.
Penerimaan siswa baru. Besar-besaran iming-iming program dan biaya gratis agar dapat kuota murid. Sulitnya anak kabupaten sekolah di kota/kodya juga jadi kendala. Sekolah kota untuk anak kota, anak desa sekolah di desa. Jadi sepandai-pandainya anak desa akan sulit sekolah di kota, dia hanya mendapatkan sekolah di desa dengan fasilitas minim...sayang bukan? Lantas sekolah unggulan kota tak bisa menolak siswanya yang IQ rendah hanya karena anak kota...akibatnya guru lebih kerja keras mengajar, nama baik sekolah dipertaruhkan.
Persaingan SMU dan SMK dalam menjaring siswa baru sangat gencar, tahun 2015 SMK naik daun dengan program mandiri dan kreatifitas kejuruannya. SMU kelabakan kekurangan murid. Desas-desus jika ada SMK mampu mendapatkan siswa baru 1000 murid maka akan terkucur dana 2 Milyar. Para kepala sekolah SMK bertarung gencar-gencaran iming-iming program menjaring siswa demi 2M dan SMU banting tulang menyelamatkan sekolah mencari siswa.
Bongkar pasang program pendidikan, di godok dan di terapkan ke sekolah entah apa jadinya, memang semua untuk pembenahan dan perbaikan pendidikan nasional. Terus bagaimana nasib guru sebagai lakon? Bagaimana mereka mempersiapkan materi dan menyiapkan media siswanya? Mampu kah? Bagaimana siswa? Jiwanya dan segala tuntutan zaman.
Sekolah unggulan mendapatkan respon baik oleh masyarakat. Dan apa yang terjadi? Mereka tak bisa mengontrol kondisi, menampung semua murid akhirnya guru kewalahan dan siswa tidak belajar nyaman dan tidak tertangani. Hanya fokus pada kelas yang diunggulkan dan melupakan murid kelas reguler lainnya. Demi nama baik sekolah hanya 1 kelas yang dipoles dan membiarkan kelas yang lain. Padahal orang tua dan siswa tahunya sekolah akan mengajarkan hal yang sama.
Orang tua hanya tau anaknya sekolah di tempat bagus, dan mempercayakan nanti anaknya jadi sukses. Sekolah hanya 8-12 jam saja selebihnya anaknya berada di rumah dan lingkungan, apa juga terawasi? Orang tua mau merogoh lebih dalam untuk anaknya disekolah unggulan. Tetapi harus tau kemampuan anak dan penempatan kepercayaan pada sekolah dan anak juga harus disadari.
Anak sebagai siswa di sekolah terus dituntut oleh program belajar yang semakin meningkat. Tuntutan dari orang tua harus rangking, kondisi sekolah? Kondisi sosialnya, bagaimana pertemanannya dan banyak hal jiwa siswa di Sekolah tanpa guru dan orang tua sadari. Banyak siswa murid sekolah unggulan jual diri dan melakukan apa saja kepada guru agar nilainya bagus. Karena takut pada orang tua nilainya jelek dan takut DO dari sekolah unggulan. Ini adalah catatan bagi kita semua..
Sekolah Internasional, Sekolah kota, sekolah daerah, Sekolah akselerasi, Kelas unggulan, Kelas Anak Pandai dan istilah lainnya dimana dipisah antara anak satu dan lainnya untuk pembedaan pembelajaran, walau dilingkup sekolah yang sama. Apa kita sadar.....ini secara tidak langsung mendidik siswa untuk DESKRIMINASI. Mendidik anak untuk membedakan siswa yang rendah yang tinggi, yang biasa yang pandai, yang miskin yang kaya dsb.
Semoga Diknas dan Depag dan seluruh masyarakat bisa memperbaiki pendidikan dan agama ini selaras. Semboyan kita adalah mencerdaskan bangsa bukan golongan atau pun perorangan....






Terimakasih atas kunjungannya dan jangan lupa koment yaaa